Karena Bertanding itu untuk Menang

"Tugas saya adalah berusaha memenangi pertandingan, bukan sekadar menempatkan sejumlah pemain mahal bersamaan." Sebuah ucapan Thomas Tuchel yang patut dicatat dalam sejarah klub sepak bola Inggris, Chelsea FC.

Tulisan ini dibuat sebelum Chelsea menjamu Everton di pekan ke-27 Premier League 2020-2021. Nama Thomas Tuchel memang kini seperti wajib menjadi pembahasan atas pencapaian Chelsea.

Kalimat di awal merupakan ucapan Tuchel setelah Chelsea bermain 1-1 di markas Southampton, pekan ke-24, 20 Februari. Dalam jumpa pers, kepada Tuchel ditanyakan apakah tantangan terbesar baginya adalah membuat para pemain dengan bakat menyerang yang dimiliki skuat Chelsea tampil bagus.

Jawaban Tuchel seperti memperlihatkan pada wartawan bahwa ia paham arah pertanyaan. Ya, musim ini Chelsea berbelanja pemain mencapai 222 juta pound dengan sorotan pada 3 pemain "menyerang". Chelsea membeli Kai Havertz (gelandang serang, 72 juta), Timo Werner (striker, 47,7 juta), dan Hakim Ziyech (winger, 36 juta).

"My job is to win games, it's not to put some expensive guys together." Inilah kalimat yang keluar dari mulut Thomas Tuchel.

Kita dapat memahami bahwa bagi Tuchel Chelsea adalah kumpulan pemain sepak bola yang dipersiapkan untuk meraih kemenangan. Ia tak peduli dengan harga transfer kedatangan mereka ke Stamford Bridge, maupun gaji "wah" yang diberikan manajemen klub. Apakah Tuchel berhasil "menguasai" kamar ganti The Blues?

Sejak Tuchel resmi bergabung bersama Si Biru dari Kota London, 26 Januari 2021, apa yang diperlihatkan pemain-pemain Chelsea di lapangan secara perlahan seolah membenarkan sikap manajemen klub yang memecat pelatih sebelumnya, Frank Lampard.

Kalau melawan Everton, Senin (8/3) atau Selasa pukul 01.00 WIB, Chelsea bisa mempertahankan gawangnya bersih dari gol, Thomas Tuchel akan menjadi manajer Chelsea pertama yang memimpin timmya clean sheet di 5 laga kandang pertama sejak bertugas.

Di tangan Tuchel, pemain Chelsea tampil solid dan konsisten. Itulah pujian Carlo Ancelotti, manajer Everton yang pernah menukangi Chelsea (2009-2011). Tuchel tak harus menyusun starting line-up dengan memaksakan pemain-pemain baru dan mahal, atau mereka yang bergaji "wah" di Chelsea.

Tapi, pemain bergaji tertinggi di Chelsea, N'Golo Kante (5,7 miliar rupiah per pekan), kini seperti lahir kembali. Tuchel melihat potensi dan talenta, bukan lembaran finansial dari manajemen. Lewat sentuhan Tuchel, Kante bahkan seperti satu pemain dengan fisik 2 pria dengan kebugaran prima yang tak berhenti bekerja untuk timnya.

Pemain muda, Mason Mount (22 tahun), kini dipuja-puji sebagai penerus Eden Hazard, bintang Chelsea yang digaet Real Madrid, Juni 2019. Secara struktur gaji pemain Chelsea musim ini, Mason Mount ada di urutan ke-19 dengan 1,5 miliar rupiah per pekan.

Akan seperti apa nasib Thomas Tuchel mengelola Chelsea dengan segala kemewahannya bila kemudian pemilik klub ingin melihat pemain-pemain yang dibeli mahal lebih sering diturunkan walau tidak masuk skenario tactical games sang pelatih?

Selama kemenangan dihadirkan, Tuchel bisa menjauh dari "pertarungan" melawan petinggi Chelsea seperti yang terjadi saat ia melatih di klub sebelumnya: Paris Saint-Germain.

VAVEL Logo